TANGERANG, LENSABANTEN.CO.ID* – Banjir yang merendam kawasan Parung Jaya, Karang Tengah, Kota Tangerang memicu perdebatan sengit antara warga dan pihak pengembang. Situasi makin panas setelah Metland Puri menyebut sampah warga sebagai penyebab utama.
Pernyataan itu langsung dibantah dalam forum musyawarah di Kantor Kelurahan Parung Jaya. Perwakilan warga, Damanhuri, menilai tudingan tersebut tidak berdasar dan tidak mencerminkan kondisi sebenarnya.
“Pak Anton, interupsi soal sampah. Bapak sudah jalan belum di drainase Puri 11? Sudah lihat belum selokan-selokan di sana? Hampir semua itu isinya sampah, bukan dari warga kami. Ada memang, tapi hanya berapa persen. Artinya bapak tidak menguasai data di lapangan,” tegas Damanhuri saat memaparkan keluhan didalam forum Musyawarah di Kantor Kelurahan Parung Jaya pada Selasa, 31 Maret 2026.
Ia menjelaskan bahwa persoalan justru terlihat di kawasan pengembang, khususnya Puri 11. Menurutnya, saluran drainase di area tersebut dipenuhi sampah dan menjadi salah satu sumber banjir.
Damanhuri juga menyoroti tidak hadirnya pihak Puri 11 dalam forum tersebut. Ia berharap pihak terkait bisa dihadirkan agar persoalan dibahas secara terbuka.
“Saya berharap Puri 11 juga ada di sini. Saya mohon kepada bapak lurah agar menghadirkan pihak Puri 11,” ujarnya.
Selain itu, warga turut mengkritisi proyek pengurukan lahan di RS Mandaya. Mereka khawatir aktivitas tersebut akan memperparah kondisi banjir di wilayah sekitar.
“Kami juga memohon kepada bapak-bapak agar tidak melanjutkan proyek pengurukan sebelum kami mendapatkan informasi dan solusi yang terbaik,” lanjutnya.
Dalam forum itu, Damanhuri juga menyindir sikap pengembang yang dinilai tidak bertanggung jawab. Ia mempertanyakan posisi warga yang justru terdampak langsung.
“Metland dan Mandaya memposisikan diri sebagai korban, terus kami sebagai apa?” katanya.
Di sisi lain, pihak Metland Puri sebelumnya telah memberikan klarifikasi terkait persoalan banjir. Mereka mengaku telah menyiapkan infrastruktur saluran irigasi untuk mengantisipasi genangan.
“Kami sudah menyiapkan saluran irigasi 2×2 meter dari Parung Jaya ke Kali Angke,” ujar Anthon.
Namun demikian, Metland menyebut kondisi saluran air di lingkungan warga masih menjadi kendala. Mereka menemukan banyak sampah yang menyumbat aliran air.
“Kami temui saluran dari warga dipenuhi sampah. Karena itu kami rutin melakukan pembersihan di saluran irigasi kami agar tidak terjadi penumpukan yang menyebabkan mampet,” jelasnya.
Selain itu, pihak pengembang mengaku terus melakukan edukasi kepada masyarakat. Mereka juga mengajak warga untuk bersama-sama menjaga kebersihan lingkungan.
“Kami juga terus mengedukasi warga untuk tidak membuang sampah sembarangan dan melakukan kerja bakti bersama agar tidak terjadi penumpukan sampah yang bisa memicu banjir,” tambahnya.
Metland juga mengungkap dugaan adanya faktor lain di luar kawasan mereka. Lonjakan debit air disebut kemungkinan berasal dari proyek lain.
“Sebenarnya dulu tidak separah ini. Tapi belakangan tiba-tiba ada debit air yang cukup besar. Informasi yang kami dapat, kemungkinan ada kiriman dari proyek lain,” ungkapnya.
Meski begitu, pihak Metland menegaskan tetap berkomitmen mencari solusi bersama. Mereka juga mengakui kawasan mereka ikut terdampak banjir.
“Yang pasti kami akan support untuk mencari solusi yang baik. Karena di sini kami juga terdampak, kawasan kami juga ikut kebanjiran,” tegasnya.
Hingga kini, polemik antara warga dan pihak pengembang masih belum menemukan titik temu. Upaya penelusuran dan konfirmasi lanjutan terus dilakukan guna mengungkap penyebab pasti banjir yang terjadi.
Red
